Kamis, 19 November 2015

Kota Demak



KOTA DEMAK
       Demak merupakan kerajaan Islam pertama dipulau jawa dengan rajanya Raden Fatah. Demak, selain sebagai pusat pemerintahan, juga menjadi pusat penyebaran agama Islam dipulau Jawa yang dipelopori oleh Wali Sanga. Bukti peninggalan sejarah masih berdiri dengan kokoh sampai sekarang, yaitu Masjid Agung Demak. Bahkan ada salah satu anggota wali sanga tersebut bermukim sampai akhir hayatnya dan dimakamkan di Kadilangu Demak, yaitu Sunan Kalijaga. Menurut cerita, Kadilangu semula adalah daerah perdikan sebagai anugrah dari Sultan Fatah kepada Sunan Kalijaga atas jasa-jasanya dalam mengembangkan agama Islam dan memajukan kerajaan Demak.

       Berbagai upaya dilakukan oleh para Wali dalam menyebarluaskan agama Islam. Berbagai halangan dan rintangan menghadang, salah satu diantaranya adalah masih kuatnya pengaruh Hindu dan Budha pada masyarakat Demak pada waktu itu. Pada akhirnya agama Islam dapat diterima masyarakat melalui pendekatan pendekatan para Wali dengan jalan mengajarkan agama Islam melalui kebudayaan atau adat istiadat yang telah ada. Inilah kota kelahiran saya yang paling bersejarah dan di kota demak ini juga mempunyai kebudayaan dan ciri khas yang bagus.

Besaran



       Grebeg besar atau sering disebut Besaran adalah  tradisi kota demak yang sudah ada sejak dulu sampai saat ini. Grebeg Besar Demak merupakan acara budaya tradisional yang menjadi salah satu ciri khas Demak dan merupakan suatu kebanggaan untuk kota Demak. Karena mempunyai tradisi tersendiri yang perlu terus dilestarikan.

       Sebulan sebelumnya akan ditandai dengan mulainya dibangun toko atau kios kecil di sepanjang jalan kota demak. Kios tersebut biasanya hanya bersifat sementara,kira-kira satu bulan. Sehingga bahan yang digunakan untuk membuat kios pun terbuat dr kayu atau bambu.


Masjid Demak



       Masjid Agung Demak adalah salah satu mesjid tertua yang ada di Indonesia. Masjid ini terletak di desa Kauman, Kabupaten Demak, Jawa Tengah.
       Masjid ini dipercayai pernah menjadi tempat berkumpulnya para ulama (wali) yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa yang disebut dengan Walisongo. Pendiri masjid ini diperkirakan adalah Raden Patah, yaitu raja pertama dari Kesultanan Demak sekitar abad ke-15 Masehi.
       Raden Patah bersama Wali Songo mendirikan masjid yang karismatik ini dengan memberi gambar serupa bulus. Ini merupakan candra sengkala memet, dengan arti Sarira Sunyi Kiblating Gusti yang bermakna tahun 1401 Saka. Gambar bulus terdiri atas kepala yang berarti angka 1 (satu), 4 kaki berarti angka 4 (empat), badan bulus berarti angka 0 (nol), ekor bulus berarti angka 1 (satu). Dari simbol ini diperkirakan Masjid Agung Demak berdiri pada tahun 1401 Saka. Masjid ini didirikan pada tanggal 1 Shofar.
       Masjid ini mempunyai bangunan-bangunan induk dan serambi. Bangunan induk memiliki empat tiang utama yang disebut saka guru. Salah satu dari tiang utama tersebut konon berasal dari serpihan-serpihan kayu, sehingga dinamai saka tatal. Bangunan serambi merupakan bangunan terbuka. Atapnya berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang disebut Saka Majapahit. Atap limas Masjid terdiri dari tiga bagian yang menggambarkan ; (1) Iman, (2) Islam, dan (3) Ihsan. Di Masjid ini juga terdapat “Pintu Bledeg”, mengandung candra sengkala, yang dapat dibaca Naga Mulat Salira Wani, dengan makna tahun 1388 Saka atau 1466 M, atau 887 H.
       Di dalam lokasi kompleks Masjid Agung Demak, terdapat beberapa makam raja-raja Kesultanan Demak dan para abdinya. Di kompleks ini juga terdapat Museum Masjid Agung Demak, yang berisi berbagai hal mengenai riwayat Masjid Agung Demak. Masjid Agung Demak dicalonkan untuk menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1995.


  Makanan Khas Demak




       Asem-Asem Daging atau Asem-Asem ini juga merupakan masakan khas dari Kabupaten Demak. Meskipun berasal dari Demak namun Asem Asem Daging juga terdapat di daerah lain di Jateng, DIY dan Jatim. Asem-Asem Demak terbuat dari beberapa bahan yaitu daging sapi, kacang panjang/ buncis, tomat hijau, bilimbing wuluh. Sedangkan bumbunya terbuat dari bawang merah, bawang putih, daun salam, laos, cabe merah besar, Kecap manis, garam dan merica.

       Cara membuatnya Asem-asem ini Rebus potongan daging dengan 600 -700 ml air hingga kaldu keluar, bersihkan busa yang keluar dari rebusan daging saat awal-awal merebus , supaya bersih. Masukkan bumbu-bumbu, belimbing wuluh dan tomat hijau, kecilkan api. Beri kecap manis, garam dan merica, cicipi hingga pas selera anda. Masak dengan api kecil supaya bumbu meresap ke daging, masukkan kacang panjang / buncis. Setelah daging meresap dan kuah asam manis nya pas, matikan api. Makan saat masih hangat.


 Buah Khas Demak
   
     Buah belimbing merupakan buah khas Demak yang terdiri dari tiga jenis yakni kapur, kunir  dan jingga. Sedangkan jambu air yang dikembangkan yakni jambu merah delima dan jambu citra yang memiliki manis buah dan rasa khas berbeda dengan hasil dari daerah lain. Kedua buah tersebut dikembangkan dikelurahan Singorejo, Betokan, dan Tempuran serta sebagian wilayah lain.

       Pada tahun 2004 jumlah tanaman belimbing sebanyak 71.538 batang dengan hasil produksi 30.640 kwintal. Tanaman ini biasa dipasarkan dalam bentuk segar ke beberapa daerah serta menembus pasar-pasar swalayan. Saat ini telah dibuka agrowisata buah yang telah menjadi ciri khas Kabupaten Demak ini.

       Belimbing demak yang memiliki ukuran besar dengan rasa segar dan agak manis ini saat ini banyak dikonsumsi masyarakat luas. Apalagi buah ini juga dipercaya memiliki manfaat bagi kesehatan.

Sumber :


Sumber gambar :





Tidak ada komentar:

Posting Komentar